|
Minggu, 5 Februari 2012 19:00:38
Sufi Libya menggelar pawai gembira melalui jantung a kotTripoli pada Sabtu kemarin (4/1) untuk menandai maulid Nabi Muhammad SAW, menentang kelompok yang mereka anggap radikal, Salafi Muslim, yang dianggap menekan mereka melarang melaksanakan tradisi yang sudah berabad-abad dilakukan.
Nyanyian himne dengan ketukan drum dan simbal, memenuhi gang-gang sempit kota tua di Tripoli untuk merayakan hari Maulid, acara favorit bagi para Sufi di benua Afrika Utara tersebut.
Perayaan maulid adalah yang pertama sejak jatuhnya Muammar Gaddafi Agustus tahun lalu, yeskipun ada kekhawatiran bahwa kelompok "garis keras" mungkin akan menyerang kelompok sufi sebagai pelaku bidah.
Ketegangan antara para Sufi tradisional dan Salafi, telah menjadi kesenjangan kunci dalam politik Libya pada saat kedua belah pihak mulai terbentuk untuk mengikuti pemilihan umum yang bebas pada bulan Juni mendatang.
"Kami bertempur melawan tiran (Gaddafi) karena ia seorang diktator dan kami tidak ingin orang seperti dia memerintah kami lagi," kata guru biologi Muhammad Arif. "Kami mayoritas."
Emhemed Elashhab, seorang syaikh di salah satu sekolah Islam di mana kelompok sufi berkumpul, mengatakan ada kurang dari 2.000 Islamis yang suka kekerasan di Libya. "Semua orang normal menentang ide-ide mereka," katanya.
Bahkan jika hari libur Maulid berlalu tanpa insiden, pemimpin sufi mengatakan bahwa mereka tetap prihatin karena pejabat keagamaan pasca-Gaddafi memiliki kecenderungan Salafi dan telah menunjuk para imam ke masjid-masjid di seluruh negeri.
Khutbah Salafi juga meluas di televisi dan radio Libya, kata mereka, yang meningkatkan kekhawatiran di kalangan sufi bahwa mereka sedang terkepung oleh kelompok Islam yang keras.(fq/reu)
Sumber
|