|
Kamis, 23 Februari 2012 09:00:54

Raja Abdullah Saudi mengatakan kepada Presiden Rusia Dmitry Medvedev pada Rabu kemarin (22/2) bahwa dialog tentang Suriah tindakan "sia-sia," lapor kantor berita resmi SPA, mengisyaratkan perlunya tindakan yang lebih tegas untuk menghentikan pertumpahan darah di negara itu.
"Rusia seharusnya melakukan koordinasi dengan negara Arab, sebelum menggunakan hak veto untuk memblokir resolusi tentang Suriah di Dewan Keamanan PBB," kata Raja Abdullah sebagaimana dikutip SPA.
"Tapi sekarang, dialog tentang apa yang terjadi di Suriah adalah sia-sia," kata raja Saudi kepada Medvedev dalam diskusi telepon terkait pertumpahan darah yang terus meningkat di Suriah.
Menurut laporan itu, raja mengatakan kepada Medvedev bahwa Arab Saudi tidak akan pernah meninggalkan kewajiban agama dan moralnya terhadap apa yang terjadi di Suriah.
Kremlin merilis pernyataan sebelumnya yang mengatakan kedua pemimpin bertukar pandangan mengenai situasi di Timur Tengah dalam kait peanristiwa di Suriah, tapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Pernyataan Raja Abdullah datang pada saat kelompok oposisi utama Suriah mendesak masyarakat internasional untuk menciptakan tempat berlindung yang aman di negara itu dan mengatakan bahwa hanya intervensi militer pilihan untuk mengakhiri tindakan keras brutal rezim Assad.
Pada konferensi pers di Paris, Dewan Nasional Suriah mengatakan akan menghadiri pertemuan di Tunis pada Jumat besok yang dikenal sebagai "Sahabat Suriah" dan meminta zona aman untuk melindungi warga sipil dan memungkinkan oposisi untuk melakukan koordinasi.
Mereka juga meminta Rusia untuk memaksa rezim Presiden Bashar al-Assad untuk memberikan akses bagi konvoi kemanusiaan.(fq/aby)
Sumber
|